SESANTI

SURA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Agustus 2010

Direndam Harap

rasa ku lumpuh
dalam gertak kemasaman
terkekang dihalau kemelaratan
lubuk berkaca, terpampang mahligai
daya tak kunjung pesona
bukan bermimpi
malam diselimut kelaliman diri
ujung penantian
merayap tersenggol gontai
deru, membisu
diri terpuruk jelaga
ku pindah, tak urung pula
yaaaaaa......hooooooo......
lepas..... terpukul....
kapan aku bersama
inikah kuntum hadiah
sudahlah....
semerbak datang pasti
kini....esok...
tegarlah....
sandarkan kelemahanmu

Kamis, 01 Juli 2010

Warung Buku

Aroma membumbung menyesakkan pandangan
hasrat menggapai menelan nikmat
berdecak, berkelakar dalam bingkai warung buku
mempesona intelektual, terlahir masa depan cerah
namun langkah terserak hingga kini
keberanian perubahan, awal ketertarikan
terpancang rasa merajai tak berkuasa
beranikah memacu aneka persahabatan......!!!!
tinggal warung buku, demi kepuasan keilmuan


Surabaya, sasana dalem pakurmatan
03 april 2010

Rabu, 05 Mei 2010

Derap awal

Idul Adha tertunda

Bulan sudah berayun

Menuju akhir waktu

Dzulqo’dah berlalu

Menapaki nafas kehidupan berliku

Seeketika datang secercah langkah

Beberapa lembar dinar menyapa hidup

Rasa ingin duduk di surga

Berharap bersua dengan ilahi

Tapi daya tak sampai

Terbengakalai

Terhalang jumlah tak memadai

Takdirkah ini yang merana

Tapi harus tak mengapa

Dimana ladang nikmat terbentang kuat

Menanti tangan asa dan cinta

Kalaupun laukhil mahfuz

Telah di ukir janji

Pasti kan ada tahun ini

Idul adha yang tertunda

Menancapkan pisau dileher kebodohan

Menyembelih kesombongan

Mengucurkan darah nafsu duniawi

Membagi daging, menjemput bidadari

Surabaya, 12 nopember 2009

Bulan bersanding

Bulan benderang, dipandang beribu ujung dunia

Disini orang milihat bulan

Di sebrang ada pula yang merasa memiliki pula

Tak hanya itu

Berkacak pinggang

Bulan yang ku lihat paling benderang

Sukar, sulit, pandai, congkak

Sekelumit hijab membendung kehendak

Tak dimengerti

Tapi bisa dipahami

Suaratan telah menggariskan,

Namun wajib harus ditunaikan

Merngkai bulan

Ditengah egoisme para penikmat malam

Jika telah bersanding

Bersandung

Bersandang

Walaupun ego tertancap kuat

Buah jatidiri berjalan meniti hari

Malam kelam laksana siang menari

Ho..... para penikmat bulan

Pengamat, peneliti sang pelita malam

Leburkan pandangan dan tujuan

Betapa harus hancur badan

Melebur....

Hancur....

Luluh...

Menyatu dalam rengkungan ilahi

Menggapai ma’rifat hakiki

Bersatu, menegakkan takdir

Bersama membangun cita

Surabaya, 12 nopember 2009